SAFETY IN THE AIR STARTS ON THE GROUND

Sabtu, 10 Maret 2018

Kapengprov Paralayang Jateng 2018 - 2022

Selamat bertugas Arie Samiaji, penuh harapan bagi insan paralayang Jateng untuk organisasi dan prestasi yang lebih baik dan lebih baik lagi...

Senin, 05 Maret 2018

Evaluasi perkembangan hasil latihan, diawali dengan tes fisik

Paralayang sebagai salah satu cabang yang dipertandingkan dalam acara olah raga multi event porprov, menjadi cabang yang favorit baik bagi daerah, atlet, maupun penonton...
Untuk mencapai hasil maksimal dan pengukuran saat latihan, tes fisik menjadi salah satu bagian untuk evaluasi perkembangan hasil latihan...

Minggu, 04 Maret 2018

Musprov Paralayang Jawa Tengah 2018

Selasa 6 Maret 2018, Pengurus Paralayang Provinsi Jawa Tengah akan melaksanakan Musyawarah Provinsi guna membahas perkembangan Paralayang dan memilih ketua baru...

Rabu, 09 Juni 2010

Melayang Tinggi Memupuk Persahabatan Sejati

BOGOR – Sejak zaman purba, manusia sudah punya cita-cita untuk terbang bagai burung. Mereka berusaha melayangkan cara efektif untuk mewujudkan mimpi-mimpi tadi. Ketika usaha membuahkan hasil, mereka pun berlomba menunjukkan superioritasnya di angkasa. Dari sekian banyak usaha itu, satu di antaranya menghasilkan cara terbang tradisional. Sederhana dan tak banyak dijejali teknologi yang rumit. Hanya bermodalkan parasut, melayang tanpa mesin berhasil menggelitik naluri bertualang tiap manusia. Cara ini ngetop dikenal sebagai paralayang.

Yosafat Erie Setianto

Persabahatan yang terjalin erat, membuat tiap penerbang merasa selalu menjadi satu komunitas yang padu. Kekompakan di antara mereka terlihat jelas, tak terkecuali saat berdoa.


”Siapa sih yang nggak kepengen terbang. Dari zaman purbakala, terbang adalah impian setiap orang. Waktu dia melihat (yang sudah bisa terbang), keinginan itu jadi meletup-letup. Hatinya merasa tertantang untuk ikut mencoba,” ungkap Zainul Arifin (39) salah seorang pehobi paralayang saat ditanya awal mula bersentuhan dengan dunia dirgantara. Ia pun mengingatkan pada cerita Ikarus, legenda usaha manusia terbang..

Agar bisa terbang, sambung Zainul, manusia memakai cara masing-masing. Ada yang terbang pakai mesin sarat teknologi, ada pula yang hanya menggunakan beberapa alat bantu saja tanpa embel-embel teknologi yang canggih. Yang pasti, semua itu menghasilkan sensasi tersendiri.

Menurut Zainul, paralayang lebih menuntut keandalan skill tiap orang untuk bisa mewujudkan keinginan terbang tadi. ”Hobi ini amat menarik saya karena kita tetap bisa terbang tanpa harus berbekal power (baca: mesin). Teknologi yang dikembangkan sederhana saja kan. Di sini, (lebih dituntut) skill dan feeling kita yang bicara banyak. Buat saya itu semua jadi tantangan dan mengasyikkan sekali,” papar lelaki berkacamata ini.

Sambil tersenyum ia pun mengaku jenuh pada dunia terbang yang dijejali dengan seabrek teknologi canggih. ”Saya sudah dua belas tahun terbang dengan pesawat. Teknologi yang dibawa pesawat sekelas 747, membuat kita manja. Serba rutin dan lama-lama jadi jenuh,” tambah Zainul yang sudah mengantungi 7.500 jam terbang dengan pesawat komersial.


Persahabatan Sejati

Bila Zainul jatuh cinta pada paralayang karena ingin mencari tantangan lain dari angkasa, Dede Supratman (17) malah punya cerita lain. ”Saya suka ini karena dulu sering ikut-ikutan latihan bareng kakak yang jadi atlet nasional. Saya pikir asyik juga nih, bisa terbang seperti burung. Apalagi paralayang nggak nuntut fisik yang betul-betul kuat seperti kita naik gunung.”

Dari hanya sekadar ikut-kutan, Dede justru teng-gelam dalam dunia paralayang. Ia pun rajin berlatih terbang di kawasan Puncak. Alhasil, kerja kerasnya itu berbuah manis. Nama Dede kini berhasil menembus persaingan panggung kompetisi olahraga dirgantara ini. ”Waktu kejuaraan di Puncak (beberapa waktu lalu), saya juara satu untuk perorangan dan nomor dua dalam beregu.”

Sebagai atlet yang mewakili DKI Jakarta, potensi Dede telah memikat para instruktur. Cuma repotnya, kata Dede, soal pembagian antara waktu latihan dengan sekolah. Kadang-kadang, salah satu urusan itu harus ”rela” dikorbankan.

Bagi Johan Luan (44), paralayang bukan saja memberi pengalaman udara yang mengasyikkan tetapi juga membekali diri tentang arti sebuah persahabatan. Komunitas paralayang terkenal kental sekali dalam keakraban antarpenerbangnya. Tak ada batas sekat identitas, umur atau tetek bengek perbedaan lainnya di situ. Semua lebur jadi satu. Wajar bila benih itu tumbuh subur menjadi sebuah pohon persahabatan sejati, yang semuanya dipupuk dari kesamaan hobi dan mimpi melayang di awang-awang.

”Meski kadang-kadang kita harus ‘bermusuhan’ mewakili daerah masing-masing dalam sebuah kompetisi, tapi kalau waktu senggang kita selalu terbang bersama-sama. Di antara kita saling mengingatkan sebelum seorang penerbang terbang dari gunung,” ujar Johan dengan mantap.

Soal itu, lulusan Akademi Ilmu Pelayaran (AIP) ini amat merasakannya. ”Ada waktu libur sedikit, pasti teman-teman yang lain sudah ribut mengajak terbang. Sebelum terbang, kita biasanya berangkat bareng-bareng. Ya, kontak itu tak pernah putus dan lebur dalam sebuah komunitas.”


Tanpa Syarat Khusus

”Belajar paralayang ini termasuk mudah. Dalam waktu yang singkat orang sudah bisa terbang sendiri,” tutur Gendon Subandon, salah seorang tokoh paralayang Indonesia. Tak ada syarat khusus bila seseorang ingin belajar. Yang penting sehat jasmani dan rohani serta punya berat minimal empat puluh lima kilogram. ”Berat minimal itu hanya untuk mengikuti ukuran payung yang paling rendah. Anak-anak sebetulnya bisa terbang sendiri tapi sayangnya belum ada parasut khusus anak-anak yang masuk ke sini,” ujar Gendon.

Soal usia, Gendon menambahkan, ”Untuk belajar paralayang, tak ada ketentuan yang menyebutkan batasan usia. Hanya saja saat orang sudah melewati tujuh belas tahun, dianggap faktor emosinya sudah matang. Itu saja.”

Saat ini, ada beberapa klub yang menawarkan paket-paket pelatihan singkat terbang bagai elang ini. Dalam delapan hari, para pemula hobi ini dijamin sudah bisa terbang sendiri. ”Asalkan selama itu, penerbang siswa ini mau belajar secara terus- menerus. Tidak boleh bolos.” Kata Gendon, kontinuitas itu sangat penting. Mood siswa yang sedang tinggi dapat berpengaruh pada perkembangan skill di masa depan. ”Bila tak bisa ikut (belajar) selama delapan hari, tiap akhir pekan penerbang siswa ini harus rutin berlatih.”

Selama pendidikan dasar, seorang penerbang anyar akan dibekali beragam teknik melayang dengan paralayang. ”Pada tahapan pemula, seorang pemula harus mampu melakukan lepas landas.” Ada dua teknik lepas landas yang dikenal dalam paralayang. Pertama, alpine launch atau lompat lari. ”Cara ini dilakukan jika kecepatan angin kecil, ya kira-kira kurang dari 8 mph atau bahkan ketika angin nol,” ucap Gendon sambil memperagakan teknik itu. Biasanya, lompat lari digunakan di negara-negara Alpin (di Eropa) atau lokasi peluncuran yang landai tentu dengan angin relatif kecil. ”Teknik ini bisa saja dilakukan ketika angin kencang, tapi butuh teman untuk memegang pilot saat parasut bergerak ke atas.”

Cara kedua, reverse launch atau lompat balik. Lompat balik dipakai saat angin berhembus kencang (sekitar 8 sampai 15 mph). Cara ini juga diterapkan pada lereng yang terlalu curam untuk digunakan berlari langsung. Gambarannya, posisi pilot akan membelakangi angin yang berembus. Sebelum meluncur, parasut terlebih dahulu dikembangkan. Dalam hitungan detik, pilot akan memeriksa apakah sel-selnya telah terisi angin dengan sempurna, tali-tali parasut dan lainnya. ”Sedikit sulit namun lebih gampang untuk memeriksa sekaligus mengontrol parasut yang mengembang sebelum kita memutuskan untuk melayang. Lompat balik bisa dilakukan sendiri, tapi jika angin terlalu kencang berembus, ya tetap butuh bantuan teman untuk memegang pilot,” tambah Gendon yang saat ini tercatat sebagai ketua bidang paralayang dalam Persatuan Olahraga Dirgantara Layang Gantung Indonesia, Federasi Aerosport Indonesia (FASI).

Rincian Payung

Bila teknik lepas landas telah dikuasai, pelajaran berikut yang harus ditekuni adalah penguasaan manuver. Manuver ini penting agar kita bisa menikmati penerbangan dengan parasut. Ada beberapa manuver yang dikenal, seperti figure of eight, putaran 90 derajat, putaran 360 derajat, spiral dive (putaran menukik), big ears dan Bee line stall. ”Termasuk, si siswa tadi harus bisa menguasai teknik bagaimana cara mengaktifkan teknik naik atau melayang, menurunkan ketinggian secara cepat, mengatasi kondisi angin kencang dan lainnya.”

Siswa juga dikenalkan pada seluk-beluk parasut, termasuk detail-detail yang ada. Kata Gendon, sebuah parasut paralayang terdiri dari dua permukaan paralel yang kuat dan saling dihubungkan dengan lembaran-lembaran vertikal. Bagian ini disebut ribs.

Pada ribs ada lubang yang disebut crossport. Fungsinya, penyeimbang tekanan dan memudahkan parasut mengembang. Ribs membagi tubuh parasut menjadi beberapa sel yang ditandai dengan dua tali yang menjulur di masing-masing sisinya. ”Setiap sel punya anak yang jumlahnya bisa satu, dua, tiga atau lebih, tergantung dari jenis parasut.”

Sisi depan yang merupakan pintu sel ada leading edge. Sisi belakangnya disebut trailing edge. Pada permukaan bawah parasut atau intrados terdapat tali-tali yang menjulur ke bawah. Gabungan dari tali-tali itu disebut riser. Dan riser inilah yang akan dihubungkan dengan harness.

Ada dua kelompok tali yang dihubungkan dengan stabilizer, namanya brake atau tali kemudi. Ujung dari tali kemudi dinamakan togel. Di tangan tali kemudi ini kontrol gerak parasut dan rem difungsikan. Dan seorang penerbang harus paham betul bagian-bagian tadi.

Belum cukup itu, penerbang siswa pun harus mampu menaksir cuaca dan kecepatan angin. Menurut Gendon, kecepatan maksimum angin yang masih layak untuk terbang adalah 30 kilometer per jam. ”Tapi ini balik lagi ke masalah orangnya. Kalau saya sendiri sih nggak berani terbang kalau (kecepatan) angin sudah sampai segitu (30 kpj). Kalau masih 25 kpj ya masih bolehlah. Masalah lainnya, (bila angin kencang) kita juga harus dibantu orang lain.” (str/bayu dwi mardana)

Sinar Harapan 2002

Biaya Mahal, Kompetisi Paralayang Sepi Peminat Lokal

Bola.net - Sejumlah peserta kompetisi paralayang internasional atau Paragliding Accuracy World Cup (PGAWC) seri pertama di Kota Batu, Jawa Timur, mengeluhkan mahalnya biaya pendaftaran kompetisi tersebut.

Salah satu peserta asal Semarang, Dikma, Kamis, mengatakan, pada kompetisi internasional sebelumnya biaya pendaftaran hanya sekitar Rp 700 ribu atau berkisar 50 euro, sedangkan untuk kompetisi lokal hanya sekitar Rp250 ribu.

Namun, untuk kompetisi seri pertama tahun 2010, biaya pendaftarannya mencapai Rp2.300.000 per peserta.

Ia memperkirakan, minimnya peserta lokal atau atlet Indonesia dalam kompetisi paralayang internasional ini, salah satu penyebabnya adalah mahalnya biaya pendaftaran tersebut.

"Mungkin karena mahalnya biaya pendaftaran ini banyak atlet paralayang nasional yang absen," katanya.

Sementara itu, salah satu panitia, Putol, mengatakan, biaya pendaftaran dalam ajang ini telah disesuaikan dengan kebutuhan kompetisi, sebab biaya yang dihitung panitia dijadikan satu dengan biaya akomodasi lainnya, seperti halnya hotel dan transportasi.

"Saya kira biaya pendaftarannya tidak mahal, sebab fasilitas yang diberikan oleh panitia kepada peserta juga sebanding," ujarnya.

Sementara dalam kompetisi paralayang internasional ini, sejumlah peserta dari 15 negara pada Kamis (3/6) sudah memulai aktivitasnya mencoba landingpendaratan paralayang yang berlokasi di kawasan wisata Songgoriti.

Usai melakukan percobaan, direncanakan Jumat (4/6) panitia akan memulai penilaian terhadap setiap peserta.

"Jika besok cuaca tidak mendukung, panitia akan menggunakan penilaian landing pada hari ini, sehingga peserta harus tetap serius ketika melakukan uji coba lapangan pendaratan," katanya.

(ant/row)

Selasa, 01 Juni 2010

Klub Paralayang di Indonesia


AangSky Paragliding Jogja Club

Jl. Cempaka Baru No.23 Condong Catur, Sleman, Jogjakarta
website : http://www.aangsky.webs.com/
Email : aangsky@gmail.com

Aerosport World Indonesia (AWI)
Tata Surya Indah I no 6 Malang Jatim
Phone : +62 341-571255
Contact : Agung Wicaksono (Awi ) / Rizka (+62 818530517)
awi_fly@ yahoo.com

Bali Paragliders Club
Jalan By Pass Ngurah Rai No. 12 A / 99 Blok A ­ 5, Kuta , Bali
Phone +62 361 704 769
Facsimile +62 361 704 768 or 488 090
E-mail: info@baliparagliders.com
Website: http://www.baliparagliders.com/

Batu Paragliders Club
SMP Negeri II Batu
Phone : 0341 7010158

Bintang Paragliders Club
Perumahan Pesangrahan Pratama
Jl. Ampel Pratama VI / Blok E-3 No. 19
Karangploso, Malang 65152
Call : 0341 531505

Fly Indonesia
Bellanova Country Mall GO-18/5, Sentul City, Bogor
Bali Office
TIMBIS BEACH, Desa KUTUH, Ungasan, Bali
Phone: +62-(0)21-33204087
Mobile: +62-(0)818491472
Email: flyindonesia@yahoo.com & info@indonesia-paragliding.com
Website: http://www.indonesia-paragliding.com/

Gedongsongo Paragliding Club (G9)
Jl. Halmahera 100 Ungaran - Jawa Tengah
Telp. 024-70109172

Get Airborne
PARAGLIDING SCHOOL AND CLUB
Head Quarter: Karinda Plaza Blok B-21
Jl. Karang Tengah Raya, Lebak Bulus - Cilandak, Jakarta
Phone +62 21 769 3026
Fax. +62 21 769 3027
Inquiry : info@getairborneasia.com
Website : http://www.getairborneasia.com/
Contact : Pungky ( +62 812 940 5241 )
Lilik Darmono ( +62 818 936 002 )

Langkisau Paragliding
Address: Moh. Hatta, Street. Num. 10. Painan. West Sumatera. Indonesia
Phone: +6281363102888
Email: para.1810@gmail.com
Website: http://langkisauparagliding.webnode.com/

Merapi Paragliding
Clubhouse Merapi Paragliding
JL.Raya Puncak km 90, Puncak, Bogor
http://www.merapiparagliding.com/

Mountnear Paragliding Center
Jln Raya Puncak Kp. Pensiunan No 80 Tugu Selatan
HP +62-818-143508
MPc Malaysian Paragliding
No. 35 Persiaran Wangsa Baiduri 1, Subang Jaya, Selangor, Malaysia
HP +60-19-2281187
Email - mountnear@ymail.com
info@mountnear.com
Website : http://www.mountnear.com/

MPA Aranyacala Divisi Paralayang
Universitas Trisakti
Kampus A Gema Lt.2
Jl. Kyai Tapa Grogol, Jakarta 11410
Ph: +62.21.566.3232
Fax: +62.21.566.3233
Email: mpa_aranyacala@yahoo.com
http://www.aranyacala.org/

Natuna Paragliding Club
WEBSITE : http://natunaparaglidingclub.blogspot.com/

PAPACHILI PARAGLIDING CLUB
Jln taman Siswa GG CITANDUI NO 18 Padang
Phone / Facs. +62 751 40311
Contact: hery soeseno (+62 8126793103)
paraglider_86@yahoo.com

Papatong Fly 'n' Play
Jl. Talang Raya No. 28 Bogor 16710
Jl. Dr Saharjo No. 100c lantai III Jakarta
Contact : Idon A. Ramadhan (+62 812 110 1972)
vydone@yahoo.com
http://www.papatong.org/

Pepaya (Jakarta)
Jl. Yado No. D-4 Radio Dalam Jakarta
Contact : Rivan H.K (+62 811 136367)
rivanhk@paragliding.web.id

Solo Paragliding Club
JL. Ahmad Yani No 2 Panggung, Solo
E-mail: nyonyosparc@yahoo.com
Telephone:
+62 815 674 7188

Sekolah Paralayang


PACU ADRENALIN, Selain tak butuh biaya mahal, paralayang relatif mudah dipelajari. Hanya perlu sehari belajar untuk bisa langsung mencoba.

BUKANNYA tanpa risiko, tapi jika mengikuti prosedur yang tepat dan berlatih benar, paralayang bisa jadi sesuatu yang adiktif untuk kesegaran pikiran. Seperti halnya olahraga ekstrem lainnya, paralayang yang biasa disebut ”terjun gunung” ini melalui proses latihan terlebih dulu.

Biasanya dimulai di sebuah lapangan dengan bukit landai berketinggian 10 meter. Kawasan Sentul, Jawa Barat, menjadi salah satu lokasi favorit para pelatih paralayang untuk memperkenalkan teknik dasar kepada calon pilot. ”Modalnya cuma keyakinan, badan sehat, dan keinginan yang kuat,” ucap instruktur paralayang Yana Mulyana dari klub Papatong.

Papatong berasal dari bahasa Sunda yang berarti ‘capung’. Para calon pilot dikumpulkan dalam satu tim yang berisi tiga hingga 10 orang dalam sekali latihan. Setengah hari digunakan untuk pengenalan peralatan, mulai dari parasut,harness, traffic udara, teknik dasar, sejarah paralayang, dan yang paling penting keselamatan (safety). Jika cuaca bagus, setengah hari kemudian akan dilanjutkan dengan praktik.

Para murid dipersilakan untuk mencoba terbang 10 kali di atas bukit dengan ketinggian 10 meter. ”Ini dilakukan hanya untuk merasakan feel-nya,” kata pria kelahiran 2 Agustus 1972 ini. Setelah melakukan 10 kali penerbangan uji coba, para siswa ini sudah siap untuk terbang di tempat yang lebih tinggi. Daerah Gunung Mas, Kawasan Puncak,Jawa barat menjadi pilihan yang tepat untuk melakukan latihan lanjutan ini.

Untuk memperoleh predikat penerbang lanjutan I, siswa harus melalui proses penerbangan minimal 40 kali dengan pengawasan instruktur. Untuk penerbangan pertama, seorang siswa hanya diperbolehkan mengikuti perintah yang diberikan instruktur, bermodalkan alat komunikasi, handy-talky (HT) yang menempel pada pundak.

Minimal juga harus ada dua instruktur yang mendampingi saat melandas (take off)dan mendarat (landing). ”Karena saat itu siswa belum bisa mengukur bagaimana harus mendarat di satu titik. Jadi kalau instruktur mengarahkan kanan, dia mengikuti menarik tangan kanan, dan sebaliknya,” ucap Yana.

Setiap penerbangan yang dilakukan para siswa dicatat dalam sebuah catatan bernama log book. Isinya antara lain catatan mengenai kondisi angin, cuaca, penerbangan, hingga pendaratan siswa. Setiap catatan akan dievaluasi terus-menerus untuk memperoleh kemajuan yang dinginkan.

Dalam menggeluti dunia paralayang, yang harus diperhatikan adalah keamanan dan pengendalian rasa takut. Siswa harus memanajemen risiko (airmanship) dengan menjaga rasa takut sebesar 50%. ”Selain selalu mengikuti prosedur, siswa tidak boleh merasa terlalu jago sehingga over confidence dan membahayakan dirinya sendiri,”

Dua hal yang menjadi penentu bisa atau tidaknya penerbangan terjadi, yakni faktor cuaca dan angin. Untuk itu, dalam olahraga ini selalu dianut moto, ”lebih baik tidak terbang sekarang daripada tidak terbang selamanya”. Moto inilah yang dipegang sekitar 800 pilot paralayang berlisensi di Indonesia.

Tidak Mahal

SELESAI MENDARAT, Yana Mulyana mengemasi parasutnya setelah mendarat. Olah raga ini sepenuhnya mengandalkan angin.

PARALAYANG termasuk olahraga yang relatif terjangkau. Dengan kocek sebesar Rp250.000, kita sudah bisa terbang tandem di Gunung Mas, Puncak. Setelah satu kali terbang, adrenalin akan meningkat dan segera menginginkan lebih.

”Paralayang sebenarnya lebih bisa dinikmati semua kalangan. Semua orang bisa mencobanya karena relatif mudah,” Hal pertama yang harus dilakukan bagi seseorang untuk memulai paralayang yang tergabung da lam Olahraga Dirgantara Layang Gantung Indonesia – Federasi Aero Sport Indonesia (PLGI – FASI) ini adalah ikut klub.

Dengan masuk sebuah klub, pemula akan memperoleh pengetahuan dan peralatan yang dibutuhkan tanpa harus membeli. Biasanya, total biaya pelatihan sekitar Rp 4,5 juta untuk 40 kali penerbangan. Artinya, sekali terbang hanya butuh Rp122.500.

Angka tersebut sudah termasuk sewa alat, pendidikan awal, dan pendampingan instruktur selama 40 kali penerbangan. Jumlah yang sangat sebanding untuk bisa merasakan asyiknya terbang di udara.

Angin sebagai Sumber Tenaga

SELAIN perlengkapan yang memadai, faktor utama dalam olahraga paralayang adalah angin. Sayap (parasut) harus memperoleh angin dari depan (face lift) untuk bisa berkembang. Angin ini juga berfungsi saat mendarat.

Arah angin dari muka menjadi krusial karena membantu parasut mengembang sempurna. ”Seorang pilot tak hanya harus menguasai alat, juga mempelajari gejala alam seperti angin,” .

Menurut dia, ada dua tipe angin yang dapat membuat pilot tetap melayang di udara. Yang pertama disebut dynamic lift. Angin ini berembus dari daratan menuju bukit sehingga dipantulkan ke atas. Jika berada di bawah lokasi angin ini berembus, parasut akan menangkapnya dan penerbang akan terangkat lebih tinggi.

Kedua, thermal lift. Angin ini tercipta akibat pemanasan daratan oleh matahari sehingga menciptakan udara panas naik ke atas. Bentuknya seperti spiral udara panas yang berputar menuju langit. Teorinya sama, pilot akan naik ke atas jika berada di bawahnya. Untuk mengetahui lokasi ini, pilot biasanya dibantu menggunakan alat variometer.

Selain angin, cuaca juga jadi faktor penentu, apakah pilot bisa mengudara atau tidak. Salah satu petunjuknya adalah melihat bentuk awan yang bisa menandakan baik buruknya cuaca.

”Untuk itu, bukan tidak mungkin jika seorang pilot sudah jauh-jauh datang ke puncak, tapi tidak jadi terbang karena cuaca tidak kunjung membaik,”


sumber: koran sindo 25 nov 2007

PARAGLIDING INDONESIA



BIDANG PARALAYANG

PERSATUAN OLAHRAGA DIRGANTARA LAYANG GANTUNG INDONESIA
FEDERASI AEROSPORT INDONESIA

Merupakan sebuah organisasi nasional yang resmi dan satu-satunya yang menangani kegiatan-kegiatan dan kebijakan-kebijakan tentang olahraga paralayang di Indonesia. Bidang Paralayang merupakan sub bagian dari Persatuan Olahraga Dirgantara Layang Gantung Indonesia (PLGI) yang berada di bawah naungan Federasi Aero Sport Indonesia (FASI). FASI merupakan anggota dari Induk olahraga nasional Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).

Pelaksanaan olahraga paralayang dan dirgantara pada umumnya di daerah / propinsi dilakukan oleh klub-klub dirgantara yang berada di bawah naungan Federasi Aero Sport Indonesia Daerah. Fasida-Fasida tersebut menjalankan kegiatan sesuai kebijakan yang dikeluarkan oleh masing-masing Persatuan Olahraga Dirgantara FASI terkait
.
Moto
Memasyarakat – Berprestasi – Keselamatan Nomor Satu

Visi Bidang Paralayang
Memasyarakatkan dan mengembangkan serta meningkatkan prestasi olahraga paralayang di Indonesia melalui standar dan prosedur keamanan yang maksimal.

Misi Bidang Paralayang PLGI
1. Menjadi pusat pembuat kebijakan dan ketentuan tentang olahraga paralayang di Indonesia.
2. Menjadi pusat informasi tentang kegiatan paralayang di Indonesia.
3. Menyebarluaskan informasi tentang olahraga paralayang ke seluruh lapisan masyarakat.
4. Meningkatkan prestasi penerbang paralayang melalui kegiatan-kegiatan nasional dan internasional.
5. Menjalin kerjasama dengan instansi terkait untuk kemajuan olahraga paralayang.
6. Mendukung setiap langkah untuk memajukan olahraga paralayang sesuai prosedur yang berlaku.


http://www.paragliding.web.id/plgi/

Kamis, 27 Mei 2010

Adrenalin Shaker dengan Paralayang

Pernahkah Anda menonton film kartun Avatar The Air Binding yang ditayangkan Nickelodeon? Dalam film ini, Ang, sang pengendali udara yang berkepala plontos sering bermain layang-layang terbang. Terlihat bagaimana ia dengan riang gembira naik ke atas membumbung tinggi dan tiba-tiba menukik dengan cepat ke arah bawah sambil berteriak kegirangan.

Banyak cara untuk bersenang-senang. Demikian juga banyak cara untuk menjadi sehat. Jika kita gabungkan maka akan banyak cara untuk sehat sambil bersenang-senang. Layang-layang terbang yang digunakan Ang saat ini menjadi alat olahraga yang disebut paralayang. Paralayang merupakan salah satu olahraga yang cukup ekstrim dan masuk kategori berbahaya. Sebenarnya tidak ada hal-hal yang berbahaya selama kita mengikuti aturan-aturan main yang ada. Bahaya adalah relatif. Olahraga sepeda di jalan raya mengandung resiko. Demikian pula kram pada saat berenang juga berbahaya. Meskipun resiko selalu ada, tetapi resiko juga bisa diminimalisasikan dengan prosedur dan tata cara yang benar.

Paralayang merupakan olahraga terbang bebas dengan menggunakan parasut atau pesawat dengan memanfaatkan angin. Ketika akan lepas landas maupun akan mendarat, kita menggunakan kaki sebagai pijakan. Biasanya lokasi yang dipilih adalah daerah yang tinggi seperti perbukitan sehingga memudahkan kita untuk melakukan start penerbangan. Paralayang merupakan ekspresi mimpi menjadi burung yang menjadi kenyataan. Pada saat awal kita akan memulainya, sangat wajar bila kita dilanda kecemasan. Perut terasa dikocok dan mulas sekali serta ingin muntah atau istilahnya adrenalin shaker. Hormon adrenalin adalah hormon yang muncul ketika otak kita memberitahu akan adanya stress atau tekanan dalam diri kita. Pada saat kita menghadapi hal-hal baru ataupun kondisi yang dianggap berbahaya oleh tubuh, maka adrenalin akan muncul. Kecemasan ini akan hilang dengan sendirinya setelah tubuh terbiasa dengan situasi dan lingkungan yang ada. Kecemasan yang ditimbulkan justru membongkar kejenuhan dan rutinitas. Setelah rasa cemas mereda, maka akan muncul perasaan lega dan gembira.

Untuk mempelajari olahraga ini, memang diperlukan pelatihan dari instruktur yang terlatih. Kita akan mendapat pelatihan sehingga bisa menguasai setahap demi setahap sampai akhirnya mahir menggunakan layang-layang. Bagi yang hanya ingin coba-coba, tidak usah khawatir. Saat ini banyak wisata paralayang dimana kita bisa terbang dengan didampingi oleh instruktur berpengalaman. Bayangkan, bagaimana kita melesat diangkasa dan melihat ke bawah. Atap-atap rumah, mobil dan kendaraan terlihat mengecil. Kita bisa mengambil jarak dengan alam sehingga bisa dengan leluasa menikmati keindahannya. Berbeda dengan naik pesawat terbang, paralayang benar benar full body contact dengan udara dan alam. Hidup terasa ringan, bebas, dan merdeka. Penyanyi kulit hitam R Kelly pun bersenandung lantang: I believe I can fly, I believe I can touch the sky...

Much Nurachmad

Rabu, 26 Mei 2010

Latihan anggota G9 Paralayang Semarang





Pendaki Gunung dan Paralayang

Pada awal perkembangannya di Indonesia, paralayang dimulai dan didominasi oleh orang-orang yang punya hobi naik gunung. Pemikirannya sederhana, setelah naik gunung dan sampai di puncaknya, mereka maunya bisa cepat turun gunung menggunakan parasut paralayang. Awal perkembangan di Eropa tahun 84-an juga hampir sama, banyak yang menyukai paralayang karena pengin cepat turun saat naik gunung. Bayangkan aja setelah 6-7 jam mendaki dan istirahat sebentar di puncaknya, setengah sampai satu jam kemudian sudah bisa sampai di kaki gunung lagi.
Tetapi perkembangan paralayang sekarang sudah jauh berbeda, justru yang dicari yang jalan kakinya sedikit, lalu bisa terbang berlama-lama di angkasa dan bahkan terbang tinggi sampai melebihi puncak gunung. Jarak terbangnya pun kalau bisa berkilo-kilometer jauhnya.
Intinya kalau kita piawai, tak hanya turunnya saja bisa naik paralayang, ke puncak gunungnya pun bisa dengan paralayang. Setidaknya bisa mendekati daerah sekitar puncaknya, karena ketika penerbang ini harus mendarat harus ada cukup ruang untuk tempat pendaratannya dan tentunya jika cuacanya mengijinkan yaitu - kecepatan angin dan visibility.

Untuk turun ya tinggal gelar lagi parasut dilokasi yang memungkinkan dan terbang lagi ke kaki gunung.(gendonsubandono.blogspot.com)

Paralayang, Cara Lain Memandang Bumi !

Sebagai olahraga petualangan paralayang memang mengasyikkan. Siapa yang tidak tergiur dengan keasyikannya? Bayangkan, kita bukan burung tetapi bisa terbang bak seekor elang yang dapat menjelajah angkasa nan luas. Terbang dari titik satu ke titik yang lain di ratusan bahkan ribuan meter di atas permukaan bumi. Dapat dengan mudah mendekati awan putih yang menggantung di langit, bahkan kalau mau kita juga bisa "membelai" awan itu.
Memanfaatkan angin naik atau lift, itulah kunci olahraga ini. Berpetualang dengan paralayang tak kan ada habisnya. Setiap penerbangan merupakan sebuah kekhususan, karena kita tak akan pernah mengalami hal yang sama di setiap penerbangan kita, selalu berbeda dari waktu ke waktu.
Jika dikaitkan dengan sebuah makna kehidupan maka akan semakin terbuka apa sebetulnya makna sebuah penerbangan paralayang. Untuk penerbang paralayang, berada di angkasa merasakan desiran angin tanpa berisik suara mesin dan dapat menyaksikan pemandangan bumi dari sebuah ketinggian sungguh merupakan suatu kebahagiaan. Siapa yang tidak kagum dengan ciptaanNYA itu ketika kita melihat rupa bumi dari sisi yang lain dan melihat dengan cara lain yang tidak semua orang bisa melakukannya? (gendonsubandono.blogspot.com)

Paralayang dan Sebuah Prestasi


Paralayang tak hanya sebuah cara berpetualang, tetapi ia juga sebuah cara untuk mengukir prestasi, apapun bentuk prestasinya! Bisa pencapaian terbang paling tinggi, terbang paling jauh, terbang paling banyak, terbang dari tempat paling tinggi, terbang paling lama, terbang paling cepat, terbang paling ekstrim bermanuver, dan lain lain. Rekor itu bisa dicapai atas namanya sendiri atau pun memecahkan rekor orang lain.

Di indonesia kegiatan paralayang yang terkait dengan prestasi salah satunya adalah berlangsungnya kejuaraan-kejuaraan, baik lokal, nasional maupun internasional.

Salah satu keberhasilan prestasi Paralayang Indonesia terbesar adalah diraihnya 7 medali emas dalam Asian Beach Ganes 1 di Bali pada 18 s/d 27 Oktober 2008 yang lalu.(gendonsubandono.blogspot.com)

Perlengkapan Olahraga Paralayang


Parasut Paralayang: Elang butuh sayap untuk terbang, penerbang paralayang butuh parasut untuk mengangkasa. Parasut paralayang diciptakan memang untuk lepas landas dari sebuah lereng bukit. Bentuk dan ukurannya jauh berbeda dengan parasut yang dipergunakan untuk terjun payung. Parasut paralayang berbentuk elips terdiri dari dua lembar kain terbuat dari bahan nylon ripstop berporositas nol dengan ketebalan sekitar 44 g/m2. Dua lembaran kain ini dihubungkan dengan lembaran tegak untuk mempertahankan bentuknya. Lembaran tegak yang disebut ribs ini membentuk sel-sel yang jumlahnya puluhan. Sisi depan (leading edge) yang disebut mulut sel menganga untuk jalan masuknya angin, sementara di sisi belakangnya (trailing edge) tertutup rapat, sehingga angin terperangkap dan menciptakan tekanan di dalam parasut. Tali-tali yang terbuat dari bahan kevlar menjulur ke bawah disatukan dengan tambat (riser) dan dihubungkan dengan karabiner di tempat duduk penerbang.

Terdapat tiga jenis parasut untuk masing-masing kemampuan penerbang yaitu: standard, perfomance, dan competition. Parasut jenis standard adalah parasut yang biasa digunakan untuk para penerbang pemula. Jenis ini mempunyai kestabilan lebih baik dibanding parasut setingkat di atasnya. Semakin tinggi tingkat kinerja parasut maka makin tinggi pula kemampuan yang harus dimiliki penerbang. Parasut Paralayang dibedakan pula sesuai ukurannya (XS, S, M, L, Dual/Tandem). Makin berat penerbangnya maka makin besar pula ukuran parasut yang dipakai.
Seperti pesawat terbang lainnya, parasut paralayang pun harus memenuhi standard kelayakan terbang. Setidaknya terdapat dua standar uji parasut paralayang yang diakui secara internasional yaitu: AFNOR dan Gütesiegel. AFNOR dikeluarkan oleh Asosiasi Layang Gantung Perancis dan Swiss (FSVL dan SHV). Sedang Gütesiegel dikeluarkan oleh Asosiasi Layang Gantung Jerman (DHV). Dengan adanya dua lembaga ini, tentu saja makin memudahkan orang yang berminat dalam olahraga ini memilih perlengkapan untuk dirinya yang paling aman dan sesuai keinginan.
Selain parasut, peralatan utama yang dibutuhkan seorang penerbang paralayang adalah seat harness (kursi penerbang), helmet, dan parasut cadangan. Perlengkapan tambahannya antara lain: kaos tangan, baju terbang, radio komunikasi/HT, Variometer (alat pengukur kecepatan vertical), GPS, dan Wind Meter (pengukur kecepatan angin). Asal tahu saja, harga peralatan komplit yang gres olahraga paralayang adalah sekitar 2000-3000 USD. Sedang harga second hand berkisar 500 – 1500 USD. (*) (gendonsubandono.blogspot.com)

Tingkatan Lokasi Terbang Paralayang


Wilayah Indonesia yang berbukit-bukit dan banyak pegunungan tinggi sangat potensial untuk perkembangan olahraga paralayang. Banyak tempat yang dapat digunakan untuk terbang, baik yang mudah dijangkau dengan kendaraan maupun yang harus ditempuh dengan jalan kaki. Tinggal memilih mana lokasi yang paling menarik dan menantang untuk diterbangi. Bagi beberapa kelompok penerbang, susahnya medan lepas landas tak menjadi persoalan meski harus berjalan kaki berjam-jam dan menggendong “pesawat” di punggungnya. Boleh jadi itulah yang justru dicari, berpetualang di darat kemudian dilanjutkan di udara. Kombinasi ini tentu menjadi paduan petualangan yang sangat mengasyikkan.

Pada umumnya lokasi-lokasi terbang ini merupakan daerah tujuan wisata yang sudah cukup terkenal seperti kawasan Perkebunan Teh di Puncak, Bogor; Gunung Banyak, Batu, Malang; Danau Maninjau, Bukit Tinggi; Gunung Bromo, Probolinggo; Gunung Batur, Bali; Matantimali, Palu, dan lain-lain. Lokasi-lokasi tersebut menawarkan berbagai tantangan sesuai tingkatan kesulitan masing-masing .
Secara umum lokasi terbang ini dapat dibedakan menjadi tiga kelas kesulitan yaitu: mudah (kelas I), sedang (kelas II) dan sulit (kelas III).Setiap penerbang yang akan terbang di lokasi-lokasi ini harus mengetahui betual batas-batas kemampuan terbangnya agar dapat terbang aman dan nyaman. Penentuan tingkat kesulitan ini lebih berdasarkan kondisi obyektif masing-masing lokasi penerbangan, seperti bagaimana kemiringan lereng lokasi lepas landas, jauh dekatnya lokasi lepas landas dan lokasi pendaratan, lokasi untuk pendaratan darurat, dan tentu saja kecenderungan kondisi angin dan awan yang berlangsung sehari-hari. Namun demikian tingkat kesulitan ini bisa saja meningkat, saat cuaca dan angin berubah drastis. Lokasi yang tadinya dikatakan mempunyai tingkat kesulitan I atau mudah dapat menjadi sulit dan membahayakan bagi penerbang paralayang.
Lokasi Terbang Kelas I (Mudah) antara lain: Puncak, Bogor. Bukit Toga, Sumedang. Gunung Banyak, Batu, Malang. Pantai Timbis, Nusa Dua, Bali. Bukit Kemuning, Karanganyar, Surakarta. Watukandang, Bojonegara, Merak.

Lokasi Terbang Kelas II (Sedang) antara lain: Bukit Kasur, Cipanas, Cianjur. Gunung Haruman, Garut. Gunung Guntur, Garut. Danau Maninjau, Bukit Tinggi. Sipiso-Piso, Danau Toba. Bukit Matan Timali, Palu. Bukit 15, Gunung Dempo, Pagar Alam. Pantai Candi Dasa, Bali. Gunung Batur, Bali.

Lokasi Terbang Kelas III (Sulit) antara lain: Gunung Gajah Mungkur, Wonogiri. Gunung Bromo. Pantai Air Manis, Padang. Pantai Parangtritis, Yogyakarta. Gunung Merapi, Magelang. Gunung Merbabu, Magelang. (gendonsubandono.blogspot.com)

Selasa, 25 Mei 2010

Puncak Telomoyo, Lokasi Paralayang Tertinggi di Indonesia



SEMARANG, KOMPAS.com - Puncak Gunung Telomoyo berketinggian 1.880 meter dari permukaan laut di Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah merupakan lokasi peluncuran paralayang tertinggi di Indonesia. Potensi ini masih bisa digali dengan meningkatkan infrastruktur jalan dan pembuatan landasan tinggal landas yang memadai."Lokasi ini sangat potensial untuk berlatih paralayang nomor cross country karena ketinggiannya memadai, sehingga bisa terbang lama dan jauh. Danau Toba (Sumatera Utara) sekitar 870 meter dari permukaan laut (dpl). Di Palu (Sulawesi Tengah) juga tidak setinggi ini," kata pelatih tim Paralayang Kota Semarang Wawan, saat Fun Fly Klub Paralayang Gedongsongo di Puncak Telomoyo, Minggu (27/12/2009).
Menurut dia, Gunung Telomoyo itu tergolong baik untuk paralayang karena menawarkan pemandangan yang menarik, serta relatif terbuka. Selain itu, perjalanan menuju puncak bisa dilalui dengan kendaraan roda empat. Namun, lokasi peluncuran itu masih belum didukung landasan luncur yang memadai. Selain itu, infrastruktur jalan beraspal menuju puncak sudah rusak parah.

Laporan wartawan KOMPAS Antony Lee
Minggu, 27 Desember 2009 | 19:23 WIB

Sejarah Perkembangan Olah Raga Paralayang di Indonesia

1990
Paralayang mulai muncul di Indonesia ditandai dengan berdirinya Kelompok Terjun Gunung MERAPI di Yogyakarta pada bulan Januari 1990. Pada saat itu olahraga paralayang lebih dikenal dengan nama Terjun Gunung. Pendiri klub ini adalah Dudy Arief Wahyudi dan Gendon Subandono. Kedua orang tersebut belajar secara mandiri melalui manual dan majalah paralayang. Bukit-bukit pasir di Parangtritis menjadi tempat latihan awal olahraga ini. Parasut yang dipakai untuk pertama kali adalah tipe Drakkar produksi Parachute de France tahun 1987. Pada tahun ini pula David A Teak mulai merasakan nikmatnya terbang dengan paralayang.

1991
Komunitas penerbang paralayang bertambah dengan munculnya nama-nama Ferry Maskun, Daweris Taher, Bismo, dan Wien Suharjo. Dua orang yang disebut pertama sebelumnya adalah penerbang Gantolle. Sedang dua orang terakhir adalah anggota Klub Skienege - Jakarta. Dua tahun pertama ini dapat dianggap sebagai masa kepeloporan olahraga paralayang di Indonesia.

1992
Pada tahun ini komunitas paralayang bertambah banyak namun alat yang ada masih sangat terbatas. Tercatat sampai dengan akhir tahun 1992 ini hanya ada 5 buah parasut. Dengan semakin berkembangnya komunitas paralayang, dirasa perlu untuk mengorganisir diri guna meningkatkan teknik dan prosedur keselamatan dan dibentuklah PPI (Pusat Paralayang Indonesia).

1993
Musibah pertama olahraga paralayang. Dudy Arief Wahyudi dinyatakan hilang ditelan ombak laut Selatan di Parangtritis saat mendarat darurat di bawah tebing di sisi timur pantai Parangendog pada tanggal 7 February. Tubuhnya ditemukan dua hari kemudian sesudah dinyatakan hilang. Nama Terjun Gunung resmi diubah menjadi Paralayang karena jauh lebih enak didengar dan jauh dari kesan ngeri. Istilah ini diresmikan di Gunung Haruman saat berlangsungnya Eksebisi Layang Gantung dan Paragliding pada tanggal 22 dan 23 Mei oleh Klub Gantolle Bandung.

1994
Olahraga paralayang masuk secara resmi ke dalam pembinaan PB FASI di bawah naungan Pusat Gantolle Indonesia. Eksebisi Ketepatan Mendarat Paralayang pertama diselenggarakan di Puncak, Bogor, pada bulan April dan diikuti oleh sekitar 20 penerbang dari Jakarta, Bogor, dan Yogyakarta.

1995
Kejuaraan Nasional dan Terbuka Paralayang I diselenggarakan di Kemuning dan Gajah Mungkur, diikuti oleh 7 penerbang asing dan 14 penerbang lokal pada akhir bulan Agustus. Pada saat yang bersamaan diselenggarakan pula Kejuaraan Ketepatan Mendarat penerbang yunior di Kemuning, Karang Anyar.

1996
Bidang Paralayang resmi menjadi bidang tersendiri yang kedudukannya sejajar dengan Gantolle di bawah PLGI dalam Munas ke V PB FASI di Lembang Bandung. Bersamaan dengan itu Pusat Gantolle Indonesia dirubah menjadi Pusat Layang Gantung Indonesia. Kejuaraan Nasional dan Terbuka Paralayang II di Gunung Haruman, Garut diselenggarakan pada bulan Juli, diikuti oleh 23 penerbang (9 penerbang asing dan 15 penerbang lokal)

1997
Kejuaraan Terbuka Paralayang Haruman gagal berlangsung karena cuaca tidak mendukung. Rekor terbang cross country paralayang dibuat sejauh 37 km di Wonogiri pada bulan Agustus oleh Lilik Darmono saat berlatih untuk mengikuti Worl Air Games I di Turki. Bidang Paralayang PLGI mengirimkan 4 orang atlet paralayang ke WAG I Turki bulan September (Rizka, Bima, Lilik, dan Uthe).

1998
Kejuaraan Nasional dan Terbuka Paralayang III diselenggarakan di Wonogiri bersamaan dengan Kejuaraan Nasional Gantolle. Pada kejuaraan ini peserta yang ikut adalah sebanyak19 orang.

1999
PLGI bersama PB FASI berjuang agar olahraga paralayang dapat dipertandingkan di PON 15 di Jawa Timur. Kejuaraan Terbuka Haruman diselenggarakan pada bulan Juni. Kejuaraan Nasional IV dan Pra PON diselenggarakan di Gunung Banyak, Batu, Malang Jatim. Tercatat sebanyak 45 orang dari 10 daerah ikut menjadi peserta.

2000
Musibah kembali menimpa pada tanggal 8 February. Dadang dinyatakan hilang dihempas badai di Puncak, Bogor. Tubuhnya ditemukan empat hari berikutnya dibawah tower telkom. Kejadian ini mendapat perhatian luas dari media massa. Kejuaraan Ketepatan Mendarat Senior dan Yunior di Puncak diselenggarakan pada bulan April, diikuti oleh sekitar 70 penerbang dari berbagai daerah.
Pekan Olahraga Nasional XV berlangsung dan paralayang untuk pertama kalinya resmi menjadi cabang yang dipertandingkan dalam PON ini di Jawa Timur. Medali emas yang diperebutkan adalah sebanyak 4 buah. Peserta yang ikut adalah 32 orang dari 8 kontingen (Sumbar, Sumsel, Riau, DKI Jakarta, Jabar, Jateng, Jatim, dan Sulsel).

2001
Kejuaraan Ketepatan Mendarat dan Festival Paralayang kembali digelar untuk memperebutkan Telkom Cup di Puncak Jawa Barat. Diikuti oleh 87 penerbang dari berbagai daerah, event ini merupakan event yang paling terbanyak pesertanya sampai th 2001. PLGI menunjuk satu orang penerbang, Jimmy Leowardy, ke WAG II di Spanyol pada bulan Juni. Kejuaraan Nasional V diselenggarakan di Gunung Gajah Mungkur, Wonogiri, pada kejuaraan ini rekor nasional lintas alam jarak terbuka dipecahkan oleh Elisa dengan terbang sejauh + 41,3 km (open distance, TO ke LZ).

2002
Tanggal 14 s/d 17 Maret diselenggarakan Coaching Clinic Instruktur Paralayang Pertama di Halim Perdana Kusuma diikuti oleh 11 Instruktur dan 1 orang Magang Instruktur.

2003
Kecelakaan fatal terjadi di Pelabuhan Ratu ketika seorang penerbang tenggelam karena mendarat di tengah laut pada tanggal 3 Maret 2003. Diperkirakan korban tak sadarkan diri beberapa saat setelah lepas andas.
Kejuaraan Paralayang Telkom Cup diselenggarakan di Puncak pada Bulan Mei 2003 diikuti oleh 109 penerbang dari berbagai daerah di Indonesia. Penyelenggaraan dengan peserta terbanyak.
Kejuaraan Nasional dan Terbuka lintas alam di Gunung Haruman pada bulan Juli 2003, kejuaraan hanya berlangsung beberapa babak karena gangguan cuaca. Seorang penerbang fun fly mengalami kecelakaan fatal saat parasutnya kolaps hingga menghantam lereng.
Pra Pon untuk pertama kalinya diselenggarakan di luar Pulau Jawa, yaitu di Gunung Dempo Pagar Alam, Sumatera Selatan pada tanggal 3 September s/d 14 September 2003. terdapat dua lokasi lepas di daerah ini yaitu di Bukit 15 (1500 m dpal) dan Bukit 19 (1900 dpal).
Dalam rangka ulang tahun Kota Batu diselenggarakan Kejuaraan Ketepatan Mendarat Nasional Paralayang pada bulan Oktober. Dengan cuaca yang kurang bersahabat kegiatan hanya dapat berlangsung satu babak.

2004
Olahraga paralayang kembali dipertandingkan di PON XVI Sumatera Selatan. Lokasi kegiatan pertandingan ini adalah di Gunung Dempo Kota Pagar Alam. Kegiatan lomba berlangsung pada tanggal 1 s/d 14 September 2004.

2005
Kejuaraan Nasional Ketepatan Mendarat Nasional "Telkom Cup" diselenggarakan di Puncak, Bogor pada bulan April 2005. Kejuaraan Ketepatan Mendarat dan Lintas Alam Nasional diselenggarakan di Gunung Banyak, Batu, Malang pada bulan Juni dalam rangka hari ulang tahun Kota Batu. Kejuaraan Nasional VI Lintas Alam Wonogiri berlangsung pada tanggal 23-29 September. Rekor Nasional terbang lintas alam jarak terbuka dipecahkan oleh Sdr Lilik Darmono sejauh 44,5 km. Rekor lama atas nama sdr. Elisa Manueke sejauh 41,3 km.

2006
Kejuaraan Nasional Paralayang & Terbuka Wonogiri diselenggarakan di Gunung Gajah Mungkur, Wonogiri, Jawa Tengah pada tanggal 8 s/d 14 September 2006. Pada kesempatan ini dipecahkan rekor terbang paralayang jarak terbuka sejauh 45 km oleh sdr Yajid dari Jawa Timur. Diselenggarakan Pendidikan Instruktur Paralayang pada tanggal 31 Oktober s/d 2 November di Batu, Malang. Pengajar adalah Mr. Klaus Irchiek dari DHV (Jerman). Tujuan pendidikan ini adalah untuk membuat standar pendidikan paralayang di Indonesia setara dengan yang dilakukan di DHV.

Sejarah Paralayang Indonesia Bermula dari Kaum Pendaki

Geliat dunia paralayang Indonesia boleh dibilang tak bisa dilepaskan dari kiprah para pendaki gunung. Keinginan turun dengan cepat setelah puas melahap sejuta tanjakan dalam pendakian ternyata melahirkan bentuk petualangan lain. Sebuah mainan baru pemacu adrenalin dalam tubuh. Sensasi yang dihasilkan pun tak kalah mengasyikkan.
”Tahun-tahun awal perkembangan paralayang di negara kita memang didominasi oleh pendaki gunung. Sebab, mereka suka naik gunung tapi kepengennya cepat turun. Ya, kalau mau cepat harus pakai parasut (terbang) ‘kan,” ujar Gendon Subandon, salah seorang pencetus paralayang di Indonesia. Itu sebabnya, pada awal kelahirannya di Indonesia, paralayang populer dengan sebutan terjun gunung.
Bersama Alm. Dudi Arief Wahyudi, Gendon mendirikan kelompok terjun gunung Merapi di Yogyakarta pada Januari 1990. ”Karena mainan baru, waktu itu kelompok ini baru ada dua anggotanya. Saya dan (alm) Dudy itu,” kata Gendon melanjutkan kisah. Mereka pun belajar dan latihan secara mandiri. Buku, majalah dan manual parasut jadi ”santapan” sehari-hari. ”Wah, dulu itu nggak ada yang namanya instruktur. Kami belajar dari buku, majalah dan manual parasut saja. Apalagi saat itu Internet belum ada, pokoknya betul-betul dari nol.”
Selama tiga bulan, kedua tokoh paralayang ini giat berlatih. Dari teknik mengembangkan parasut, latihan terjun sampai cara mengendalikannya di angkasa. Medan latihan pun berpindah-pindah, kadang di kampus atau bukit-bukit pasir Parangtritis. ”Waktu terbang perdana, kami pinjam payung milik Lody (Korua, pemilik operator wisata arung jeram di Sungai Citarik –Red.). Tipenya Drakkar produksi Parachute de France tahun 1987. Termasuk payung untuk pemulalah,” kenang Gendon sambil tersenyum.
Setahun kemudian, terjun gunung mulai dilirik para petualang lainnya. Nama-nama beken seperti Wien Soehardjo, Bismo, Daweris Taher dan Ferry Maskun mulai meramaikan panggung dunia pembangkit adrenalin ini. Dua nama awal adalah pendaki dan pemanjat asal klub Skienege sedang sisanya penerbang gantolle. ”Sebelumnya, David A. Teak juga telah aktif terbang dengan paralayang,” ungkap Gendon.
Pada tahun 1992, komunitas paralayang bertambah banyak. Tapi sayangnya pertumbuhan bagus itu tak diiringi dengan ketersediaan alat. Tercatat hanya ada lima buah parasut sampai akhir tahun 1992. Agar teroganisir rapi, para penerbang ini sepakat membentuk wadah berskala nasional, Pusat Paralayang Indonesia (PPI).
Di tahun-tahun berikut, paralayang makin mendapat tempat di hati petualang lokal. ”Karena berkesan seram, kami berpikir untuk mengganti sebutan terjun gunung untuk olahraga ini. Kok kalau disebut terjun gunung, seolah-olah kita melompat dari gunung begitu saja tanpa bekal apa-apa. Setelah rembukan dengan teman-teman, pada 23 Mei 1993 istilah paralayang resmi dibakukan untuk mengganti nama sebelumnya itu,” tutur Gendon. Peresmian nama itu dilakukan di Gunung Haruman, Jawa Barat.

Dipertandingkan
Perkembangan paling pesat terjadi pada periode 1993 hingga 1996. Alat bertambah banyak, penerbangnya juga terus bertambah. Mereka tak lagi terbatas pada kaum pendaki saja, tapi melebar ke berbagai kalangan alias umum. Kegiatan yang dijalankan mulai teratur. Pada tahun 1994, paralayang secara resmi masuk ke dalam pembinaan PB FASI (Federasi Aero Sport Indonesia) di bawah naungan Pusat Gantolle Indonesia. Masih di tahun yang sama, diadakan eksibisi ketepatan mendarat paralayang pertama di Puncak, Bogor, pada bulan April. Ada 20 penerbang dari Jakarta, Bogor, dan Yogyakarta yang mengikuti acara ini.
”Walau sudah masuk pembinaan FASI, kami belum resmi masuk ke dalam tubuh organisasi ini. Sebab belum disahkan melalui munas (musyawarah nasional),” ujar Gendon yang sempat tiga kali gagal terbang dari puncak Gunung Merapi, Yogyakarta. Lewat Munas V PB FASI pada tahun 1996 di Lembang, Bandung, paralayang resmi menjadi bidang tersendiri yang kedudukannya sejajar dengan gantolle di bawah Pusat Layang Gantung Indonesia (PLGI).
Saat PON XV tahun 2000 di Jawa Timur digelar, paralayang telah dinyatakan sebagai salah satu mata lomba yang dipertandingkan. Ada empat medali emas yang disediakan. Peserta yang ikut sebanyak 32 atlet dari delapan kontingen.
Karena makin populer, banyak akses ke lokasi peluncuran paralayang tak lagi harus ditempuh dengan jalan kaki atau bersusah payah mendaki sebuah gunung. Sebut saja, Kampung Toga di Sumedang, Wonogiri dan Parangtritis.
Kenikmatan yang dicari sedikit banyak telah bergeser dari sensasi mendaki gunung lalu terbang dari puncaknya menjadi hobi terbang saja. Peminat terbang dari puncak gunung memang agak kendor. Kisah-kisah petualangan tenggelam dengan kesibukan mengejar prestasi. Boleh jadi itu imbas dari kepopuleran tadi.
Soal itu, Gendon mengaku tak khawatir. ”Ya, nggak jadi masalah. Kalau dia (penerbang -Red) memang serius berlatih dan bercita-cita menjadi atlet, kenapa harus dihalang-halangi? Bagi yang hanya ingin sekadar hobi, kami juga ada wadahnya. Ekspedisi terbang ke gunung juga masih dilakukan. Beberapa waktu lalu, kami sempat terbang dari lereng Gunung Guntur di Garut,” tuturnya. (str/bayu dwi mardana)

Copyright © Sinar Harapan 2002

Kejuaraan Paralayang Semarang 2010 (3)





Kejuaraan Paralayang Semarang 2010 (2)